header-int

STUDY BUDAYA DI DESA TANAH TOA, KEC.KAJANG KAB. BULUKUMBA

Sabtu, 10 Mei 2025, 07:21:28 WIB - 216 View
Share
STUDY BUDAYA  DI DESA TANAH TOA, KEC.KAJANG KAB. BULUKUMBA

STUDY BUDAYA

MAHASISWA SEMESTER 2 PRODI D3 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDI SUDIRMAN

DI DESA TANAH TOA, KEC.KAJANG KAB. BULUKUMBA

Dosen pengampu mata kuliah : Andi Haryati Hasrib,S.Kep,Ns,MM dan Irfan Madamang S.Kep,Ns,MM,M.Kep

Tepatnya kamis, Tanggal 1 Mei 2025 mahasiswa semester 2  prodi D3 Keperawatan Universitas Andi Sudirman melakukan study budaya pada masyarakat suku kajang sebagai bagian dari mata kuliah antropologi Kesehatan untuk mengenal budaya suku kajang yang ada hubungannya dengan Kesehatan seperti perilaku suku kajang dalam menanggapi penyakit, pengobatan tradisional, adat dan budaya suku kajang yang mempengaruhi Kesehatan.

Dalam study budaya ini, mahasiswa lebih focus pada pertanyaan adat budaya suku kajang yang berhubungan dengan Kesehatan namun mahasiswa yang lain boleh bertanya diluar dari pertanyaan  kesehatan seperti sistem pendidikan, mata pencaharian, adat istiadat. Adapun adat istiadat yang berlaku pada masyarakat suku kajang seperti yang dijelaskan narasumber adalah

  • Ritual “nganro” merupakan bentuk permohonan kepada leluhur atau roh-roh nenek moyang agar diberi keselamatan dan hasil panen yang baik.
  • Ritual “adingingi” dilakukan sebagai bentuk penyucian atau tolak bala untuk menghindari bencana dan penyakit.
  • ’Syukuran’’  biasanya dilakukan setelah panen atau saat memulai sesuatu yang besar seperti membangun rumah atau membuka ladang baru. Upacara-upacara ini dilakukan secara khusus ‘’pada bulan pertama’’ dalam kalender adat, yang dianggap sebagai waktu suci untuk memulai sesuatu. Mereka mempersembahkan doa untuk ‘’alam, rumah, tanah, kebun, dan sawah’’ sebagai bentuk penghormatan kepada alam yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Dalam setiap kegiatan adat, ucapan “Assalamu’alaikum tau” digunakan sebagai bentuk salam dan penghormatan terhadap manusia dan alam semesta.

Sedangakan budaya Kesehatan yang berlaku pada masyarakat suku kajang adalah memanfaatkan tanaman yang ada di lingkungan sekitar sebagai pengobatan tradisional. Ramuan-ramuan tersebut diperoleh dari hutan adat (borong karama) yang memiliki fungsi ekologis dan spiritual. Tanaman yang digunakan tidak bisa diambil sembarangan, melainkan harus melalui izin adat atau dilakukan dengan ritual tertentu agar tidak mengganggu keseimbangan alam dan tidak menimbulkan kemarahan roh penjaga hutan. Dalam praktik pengobatan, peran dukun atau sandro sangat krusial. Sandro adalah orang yang dipercaya memiliki pengetahuan turun-temurun mengenai tanaman obat, ritual penyembuhan, serta kemampuan spiritual untuk berkomunikasi dengan roh. Mereka tidak hanya meresepkan obat, tetapi juga melakukan ritual pembersihan (assappu), doa adat, hingga baca pasang untuk mengembalikan keseimbangan pasien dengan alam dan dunia spiritual.

Adapun sistem pendidikan yang berlaku pada masyarakat suku kajang berdasarkan hasil wawancara mahasiswa dengan narasumber adalah Sikap lembaga adat Ammatoa dengan adanya masyarakat yang menempuh jalur pendidikan formal yaitu menerima (positif). Ammatoa selaku pemangku adat tertinggi memberikan hak sepenuhnya kepada masyarakat yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Aturan adat tidak melarang masyarakat adat Ammatoa untuk mengenyam pendidikan formal, namun mereka harus tetap berpedoman pada Pasang ri Kajang. Pelajar di bagian Kawasan Adat Tanah Toa, kajang  harus menggunakan seragam putih hitam.Untuk SD, SMP dan SMA harus menggunakan pakaian celana hitam bagi laki-laki dan rok hitam bagi perempuan dan Mereka tetap menggunakan sepatu, tetapi sepatu bisa dipakai di area pintu masuk Kawasan Adat Ammatoa Kajang

Untuk sistem mata pencaharian masyarakat suku kajang, Sebagian besar masyarakat adat kajang berprofesi sebagai petani dan pekebun namun pada waktu-waktu tertentu, banyak masyarakat yang merantau keluar Kawasan adat. Beberapa masyarakat bekerja sebagai petani dan kuli bangunan di Kota Makassar dan beberapa daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Aktivitas tersebut dilakukan untuk mengumpulkan uang menafkahi hidup keluarganya dan Sebagian lainnya tetap tinggal dalam Kawasan adat untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, berikut penggolongan mata pencaharian masyarakat adat Ammatoa :

  1. Bercocok tanam/Bertani seperti padi, jagung, buah-buahan
  2. Beternak seperti ayam, kuda, sapi, kerbau dll
  3. Menenun : kain hitam untuk dijadikan kain le’leng (baju hitam) tope (sarung hitam), Passapu (kain hitam yang dililit di kepala menjadi topi/songkok yang dikenakan oleh kaum laki-laki
  4. Berdagang : dari hasil pertanian, beternak dan hasil menenun. Mereka menjualnya di luar Kawasan adat. Khusus untuk hasil panen mereka menjualnya Sebagian dan menyimpannya Sebagian untuk dikomsumsi sehari-hari

Kunjungan ini merupakan bagian dari mata kuliah Antropologi Kesehatan dalam mengintegrasikan teori yang mereka dapatkan dengan pengalaman lapangan, membekali mahasiswa dengan keahlian yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan relevan dengan kehidupan nyata.

Ibu Andi Haryati Hasrib selaku koordinator mata kuliah Antropologi Kesehatan mengatakan bahwa dengan turun langsung ke lapangan melihat dan mempelajari langsung adat istiadat masyarakat suku kajang tentunya menambah ilmu pengetahuan dan juga menjadi pengalaman yang berharga buat mahasiswa, Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa tentang etnografi, tetapi juga menambah kepekaan dan apresiasi mereka terhadap keberagaman budaya dan saya melihat antusiasme mahasiswa, berjalan cukup jauh tanpa mengenakan alas kaki di atas jalanan yang bebatuan untuk melihat langsung Kawasan adat. Berdialog terkait nilai-nilai hidup dengan narasumber dan mahasiswa mencatat dengan baik, sekalipun tidak ada dokumentasi karena tidak diperbolehkan di area tertentu, imbuhnya.

Sementara itu, menurut Bapak Irfan Madamang selaku dosen pengampu mata kuliah mengatakan "dengan berkunjung di Kawasan adat Ammatoa, mahasiswa bisa melihat langsung masyarakat Suku Kajang masih memegang teguh kepercayaan dan budaya nenek moyang seperti tidak memakai alas kaki, tidak menggunakan listrik dan tidak menerima moderenisasi, masih sangat kental akan adat budaya dan hanya di Suku Kajang kita bisa lihat bahwa ada daerah yang belum sama sekali tersentuh oleh teknologi." Ungkapnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

Unidha Universitas Andi Sudirman merupakan lembaga pendidikan yang berada di Kabupaten Bone dengan membuka beberapa program studi dan telah meluluskan ribuan mahasiswa yang telah mendedikasikan dirinya diberbagai Instansi baik Negeri maupun Swasta, dan telah Berubah menjadi Universitas Andi Sudirman yang beralamat di jalan Jl. Yos Sudarso. Poros Bone Bajoe, Sulawesi Selatan Indonesia.
© 2026 UNIVERSITAS ANDI SUDIRMAN Follow Universitas Andi Sudirman : Facebook Twitter Linked Youtube